Jumat, 01 Oktober 2021

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya



Bambang Widyanarko, M. Pd – SMPN 1 Cianjur
CGP Angkatan 2 Kabupaten Cianjur Jawa Barat


a. Simpulan Materi di Modul 3.2

Dalam membahas topik Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya, pertama-tama harus dipahami konsep sekolah sebagai suatu ekosistem. Sekolah dapat dianggap sebagai sebuah ekosistem dimana terdapat interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua, dan Masyarakat sekitar sekolah. Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya seperti Keuangan, Sarana dan prasarana.

Dalam hal ini seorang kepala sekolah diharapkan memiliki sejumlah kompetensi. Sebagaimana termaktub pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13  Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah yaitu: bahwa standar  kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah paling tidak memiliki lima kompetensi, yakni kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan kompetensi sosial. Bila kita lihat kompetensi manajerial seorang kepala sekolah, kita akan mendapat berbagai rincian seperti:

1) Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan;

2) Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan;

3) Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal;

4) Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajaran yang lebih efektif;

5) Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik;

6) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal; 

7) Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal;

8) Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pendirian dukungan ide, sumber belajar dan pembinaan sekolah/madrasah;

9) Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik;

10) Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional;

11) Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan dan efisien;

12) Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah;

13) Mengelolah unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah;

14) Mengelolah system informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan;

15) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah;

16) Melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan. 


Dari uraian diatas terlihat jeals peran sentral seorang kepala sekolah sebagai figure pemimpin pembelajaran yang harus dapat mengelola semua sumberdaya yang dimiliki sekolahnya. Kepala sekolah harus dapat memainkan berbagai peran dengan efektif termasuk sebagai instructional leader karena sejatinya kepala sekolah-lah yang memiliki posisi dan kapasitas di ekosistem sekolah. Kepala sekolah disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin yang bersifat administratif, pertemuan-pertemuan, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat non-akademis sehingga waktu untuk mempelajari pembaruan/inovasi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar siswa kurang mendapatkanperhatian. Padahal, ketiga hal yang terakhir sangat erat kaitannya dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar, yang pada gilirannya, mutu proses belajar mengajar sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas siswa dan kualitas sekolah secara keseluruhan. Untuk itu, sudah selayaknya peran kepemimpinan pembelajaran memperoleh porsi waktu yang lebih besar dibanding dengan peran-peran yang lain. Peran-peran yang yang lain bukan tidak penting, akan tetapi peran kepemimpinan pembelajaran harus yang terpenting.

Untuk dapat mengelola sumber daya sekolah secara efektif dan efisien hal yang pertama yang harus dilakukan adalah merubah paradigma dari pendekatan berbasis kekurangan menjadi pendekatan berbasis asset. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking)  akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja.  Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.  Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih.  Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pendekatan  berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri.  Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University. ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).  

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi tidak berdaya, pasif, dan selalu merasa bergantung dengan pihak lain.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai, prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset  berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas.  Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku ‘Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development’ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar.  Penjelasan yang ada sebetulnya ditujukan untuk pengembangan masyarakat, namun tetap bisa kita implementasikan pada lingkungan sekolah karena sebetulnya adalah miniatur sebuah tatanan masyarakat di suatu daerah.

Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai.  Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat.  Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada.  Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada. 

Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik.  Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas. 

Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.

Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan.

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:


1.    Modal Manusia

2.    Modal Sosial

3.    Modal Fisik

4.   Modal Lingkungan/alam

5.    Modal Finansial

6.    Modal Politik

7.    Modal Agama dan budaya


Seorang kepala sekolah seharusnya mengelola sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. Semua sumber daya (fasilitas) yang sekolah miliki harus berdampak untuk memfasilitasi proses pembelajaran murid. Namun seringkali pada pelaksanaanya belum dapat dikatakan efektif. Perlu dipelajari cara alternatif yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan sumber daya yang sudah ada demi meningkatkan kualitas pembelajaran murid. Selain itu perlu dibahas pula apakah sekolah memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar.

Hubungan dengan Materi di Modul sebelumnya.

Topik ‘Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya’ pda modul 3.2 ini tentu berhubungan dengan materi di modul sebelumnya. Bila kita gunakan konsep utama di modul ini bahwa sekolah adalah sebuah ekosistem. 

1. Modul 1.1: Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara akan memberikan landasan mengenai jati diri guru sebagai pemimpin pembelajaran salah satunya dengan semboyan Ing ngarso sung toludo, Ing madyo mangun karso dan Tut wuri handayani. Kemudian pengibaratan guru sebagai petani dan menghamba kepada murid. 

2. Modul 1.2: Nilai dan Peran Guru Penggerak akan memperjelas nilai guru sebagai pendidik dan manusia.

3. Modul 1.3:  Visi Guru Penggerak memperlihatkan kompetensi untuk dapat Menyusun Visi pribadi sebagai guru yang visi tersebut berpihak pada murid.

4. Modul 1.4: Budaya Positif berhubungan dengan konsep di modul ini yaitu pendekatan berbasis asset untuk pengembangan komunitas.

5. Modul 2.1: Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan salah satu pratek pembelajaran yang berpihak pada murid.

6. Modul 2.2: Pembelajaran Sosial dan Emosional menitik beratkan pada penempatan murid sebagai sentral dan tujuan system Pendidikan. 

7. Modul 2.3: Coaching juga merupakan salah satu praktek memberdayakan murid dalam mengembangkan kompetensi pribadinya.

8. Modul 3.1: Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran menggambarkan dinamika dan pronlematika yang dapat ditemui ketika suatu keputusan harus dibuat.


b. Rancangan Tindakan Aksi Nyata

Judul Modul : Pemimpin Pembelajaran  dalam Pengelolaan Sumber Daya

Nama CGP : BAMBANG WIDYANARKO, M.Pd.

Latar belakang

SMPN1 Cianjur telah memiliki website resmi sekolah namun belum dimanfaatkan dengan efektif khususnya untuk memberikan layanan pembelajaran. Status langganan bulanan saat ini masih aktif namun penggunaannya tidak efisien. Web itu sekolah hanya dapat digunakan pada kegiatan PAS atau PAT saja. Hal ini memunculkan pemikiran bahwa uang sewa web bulanan tidak dapat bermanfaat apabila tidak ada aktifitas hariannya.


Tujuan

Melengkapi web SMPN 1 Cianjur dengan fitur pembelajaran seperti LMS yang dapat diakses oleh murid baik itu untuk PJJ regular atau self-directed learning. 


Tolak ukur

Kriteria keberhasilan tercapai apabila web sekolah telah dapat dilengkapi dengan fitur pembelajaran dan dapat digunakan dengan efektif oleh murid, guru dan warga sekolah lainnya.


Linimasa Tindakan (BAGJA)

PRAKARSA PERUBAHAN Membuat website sekolah sebagai sarana pembelajaran







Dukungan yang dibutuhkan

1. Kepala sekolah dengan kapasitas selaku pemimpin pembelajaran.

2. PKS HUMAS selaku penanggung jawan konten relasi masyarakat.

3. PKS Kurikulum selaku penanggung jawan konten pembelajaran seperti CBT.

4. PKS Kesiswaan selaku penanggung jawan konten kesiswaan.

5. Tim IT khususnya web master di situs resmi sekolah.

6. Rekan Sejawat yaitu guru dan TU.

7. Siswa yang di rasa dapat membantu,

8. Ahli di bidang IT yang kompeten.

9. Komite sekolah.

10. Komunitas lain.




Jumat, 10 September 2021

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri: Bambang Widyanarko (SMPN 1 Cianjur)

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran



Bambang Widyanarko

SMPN 1 Cianjur


Patrap Triloka dan Pengambilan Keputusan

Patrap Triloka terdiri atas tiga semboyan, yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Semboyan dalam dunia pendidikan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”.
Semua guru tidak boleh selalu berada di belakang terus. Kita harus dapat mengambil keputusan saaat berada dalam ketiga posisi tadi: depan, tengah dan belakang. Dimana pun cara pandang kita tetap bahwa jati diri kita adalah GURU. Tugas kita adalah memberi kebaikan bagi orang lain bukan menuntut dari orang lain. Berikan yang bermanfaat dan tepat serta efektif berdasarkan waktu dan tempat yang sesuai tuntutan.

Nilai-nilai diri dan prinsip pengambilan keputusan

Nilai dan semangat yang harus terus dipelihara adalah bahwa kita selalu harus menjadi bagian dari penyelesaian atau PART OF THE SOLUTION. Walaupun terdapat berbagai pertimbangan, paradigma, prinsip dan Langkah pengambilan keputusan, tetap harus didasari oleh nilai yang hakiki. Mudahkanlah urusan orang, jangan mempersulit dan jangan menakut-nakuti. Lihat semua sisi dan selalu tabayyun. Apabila keputusan telah dibuatm siap menerima konsekuensinya dan bersabar. Pasti ada hikmah dan pembelajaran dari akibat keputusan yang kita buat.

Coaching pendamping/fasilitator dan pengambilan keputusan

Pendamping senantisa berlaku sebagai coach saya, namun fasilitator lebih kepada mempercepat pengumpulan tugas. Pendamping sering bertanya mendalam apa saja kesulitan kita, mendengar keluhan, dan menawarkan solusi lian. Mencoba dengan keras memahami mimpi-mimpi kita. Memahami siap kita. Fasilitator telah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Namun belum dapat menjadi coach yang saya butuhkaan. Mungkin karena fungsinya berbeda.

Studi kasus masalah moral/etika kembali kepada nilai yang dianut seorang pendidik

Studi kasus saja tidak dapat menyatukan pandangan semua orang agar tiba pada kesepakatan. Ini karena sudut pandang yang berbeda dan kedalaman pemahaman yang berbeda pula. Tidak selalu memiliki pilihan akan menimbulkan masalah dilemma. Apabila kita teguh dengan nilai atau prinsip atau paradigma atau apapun keyakinan yang kita anggap benar, ambil salah satu yang terbaik dan tinggalkan yang lainnya. Keraguan sering membuat kita mengambil keputusan yang salah. 

Dampak pengambilan keputusan yang tepat

Sekolah atau tempat kerja kita adalah ekosistem yang bekerja secara sistemik. Faktor yang akan menganggu tentunya harus dikeluarkan dari ekosistem tersebut. Dengan membuat keputusan yang tepat kita berusaha menyelematkan orang yang lebih banyak dan berusaha berbuat yang terbaik untuk Sebagian kecil individu yang bermasalah. Jangan karena ada seseorang yang bermasalah mengakibatkan yang lain yang lebih unum dan banyak menjadi terpengaruh. Menjadi ikut memburuk. Sekolah diharapkan tercipta sebagai lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. 

Kesulitan menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika

Banyak figur dan faktor yang menyebabkan sesorang mengalami kesulitan menjalankan pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika. Salah satunya posisi atau kapasitas seseorang. Misalkan seorang guru ingin seorang anak tidak naik kelas karena masalah nilai dan kedisiplinan. Pimpinan tidak setuju. Maka guru akan kalah. Guru pun frustasi dan merasa tidak dihargai. Merasa tidak adil dengan siswa lain yang kinerjanya memuaskan. Pimpinan mencari-cari kesalahan guru dan mengatakan jangan bertindak ekstrim selama guru belum bekerja secara professional sesuai standar yang tinggi. Perlu perubahan ni kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan kerja kita, sekarang dan saat ini juga. 

Pengaruh pengambilan keputusan pada pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Memerdekakan murid perlu dimaknai dengan akurat. Memanusiakan murid mungkin lebih tepat. Karena hakikatnya semua manusia itu merdeka. Merdeka tidak berarti merdeka seluas-luasnya. Kemerdekaan berpikir dan bertindak tidak menjamin murid akan lebih baik. Sering kali karena usia dan kedewasaan mereka yang belum matang murid pun tidak tahu apa yang terbaik yang harus mereka lakukan. Keputusan memberi Pendidikan yang baik, menciptakan ekosistem belajar yang baik, menciptakan pengajar yang memanusiakan murid harus diambil secara sistematis pula. Tidak parsial. Aneh jadinya. Guru disurauh mengambil keputusan yang masuk akal sementara system tempat dia bekerja menjalakan feodalisme, meritokrasionisme dan patronisme yang berlebihan. 

Pengambilan keputusan Pemimpin pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid

Apakah masa depan murid sepenuhnya ditentukan oleh kepintaran guru dalam mengambil keputusan? Ada murid yang selalu berkinerja buruk secara akademis dan moral tetapi dalam kehidupan ke depannya lebih sukses dari teman-temannya para bintang kelas. Yang dapat dilakukan guru adalah menjalankan kewajibannya dengan baik. Ketika guru memberikan hukuman atau pujian tentu itu semua berdasarkan kejadian saat itu. Guru tidak berpikir bahwa semua keputusannya akan sangat menentukan masa depan muridnya. Murid yang bodoh dan malas itu ternyata dapat menjadi pimpinan daerah, atau pengusaha kaya, atau professor. 

Kesimpulan akhir

Pengambilan keputusan yang efektif adalah suatu keterampilan atau skill. Skill ini perlu dilatih dan ditetapkan standarnya. Bukan hanya sampainya materi berhalaman-halaman atau setumpuk informasi baru. Apa kriteria seseorang dikatakan telah terampil membuat keputusan? Bagaimana menciptakan acuan yang pasti atas kemampuan sesorang guru ketika mengambil keputusan? Semua materi di modul-modul sebelumnya dan modul ini baru merupakan penggalan pengetahuan saja yang tentu perlu pendalaman. Dan waktu yang untuk mendalami sangatlah lama. Untuk menjadi seorang guru dengan standar KHD butuh waktu. Untuk melaksanakan diferensiasi sesuai keinginan Tomlinson juga butuh waktu.  Untuk memasyarakatkan mindfulness juga butuh waktu. Menjadi coach yang professional pun demikian. Terakhir untuk menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Harus diseret dahulu kesadaran guru bahwa dia adalah pemimpin pembelajaran. Pemimpin itu harus adil. Tidak boleh jalim. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka yang dipimpinnya.
Sisi baiknya adalah kita harus selalu melakukan semua kebaikan dengan penuh kesadaran dan kesadaran penuh. Semua Tindakan kita tidak luput dari kesalahan, sengaja atau pun tidak sengaja. Dan hidup sejatinya adalah sebuah pilihan bukan pemaksaan. Pengambilan keputusan juga merupakan sebuah pilihan, bukan keterpaksaan.


Jumat, 30 Juli 2021

1.4 Artikel_Aksi Nyata_Bambang Widyanarko_Budaya_Positif

 PGP-2-Kabupaten_Cianjur-Bambang Widyanarko -1.4-Aksi Nyata

Memulai Menerapkan Budaya Postif berbentuk Kesepakatan kelas dalam Pembelajaran Daring Bahasa Inggris Kelas 8 SMPN 1 Cianjur Tahun Pelajaran 2021/2022

Latar belakang

Budaya positif  adalah salah satu materi penting pada program pelatihan calon guru penggerak. Setelah memahami esensi dari budaya postif ini tetntulah langkah selanjutnya adalah penerapannya. Pada aksi nyata Modul 1.4 ini akan digambarkan bagaiamana penulis memulai menerapkan bodaya positif  pada pembelajaran daring Bahasa Inggris Kelas 8 di SMPN 1 Cianjur.

Walaupun sudah banyak pengajar yang telah menyadari akan penerapan disiplin, mereka  masih menggunakan dasark motivasi ekstrinsik, dimana pembiasaan positif yang diterapkan belum merupakan disiplin positif. Ini terlihat dengan masih diterapkannya prinsip reward dan punishment. Dalam proses pembentukan perilaku positif  di kelas misalnya, komunikasi yang dibangun adalah satu arah. Guru masih mendominasi dalam menentukan aturan dan sangsi yang akan diberlakukan. Seharusnya, pendidik dapat mendisiplinkan peserta didik bermula dari kesadaran serta menumbuhkan motivasi intrinsik. Kedepannya, diharapkan disiplin dan budaya poisitif yang sudah terbangun dan dan menonjol dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi karakter semua warga sekolah. Disinilah dibutuhkan peran semua pihak agar budaya positif di sekolah dapat konsisten dikembangkan untuk mewujudkan karakter atau profil pelajar Pancasila.

Dengan kondisi pandemi yang masih mengganas, penulis menginginkan suatu strategi agar pembelajaran daring bisa berlangsung secara efektif dan menyenangkan. Katakanlah tidak hanya sekedar melaksanakan kewajiban untuk transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan saja melainkan juga pembentukan sikap disiplin dan tanggung jawab. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu membuat kesepakatan kelas.

Kesepakatan kelas merupakan aturan/kesepakatan bagi siswa dan guru yang dianggap bisa dilakukan baik secara individu maupun kelompok dan berlaku untuk kelas tersebut. Kesepakatan kelas umumnya berisi daftar yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Bentuknya dapat berupa panduan tingkah laku dan kata-kata yang positif.  Membuat kesepakatan kelas biasanya dilakukan sebelum memulai aktivitas baru, di awal tahun ajaran baru dan setelah libur panjang.

Deskripsi Aksi Nyata

Langkah membuat kesepakatan kelas dapat dilakukan dengan langkah-langkah:

1.          Guru mengadakan pertemua vitual dengan semua siswa dari kelas yang diampu menggunakan Google Meet.

2.          Setelah siswa siap, pertemuan direkam untuk dokumentasi.

3.          Guru meminta murid untuk menyampaikan masalah yang selama proses pembelajaran dan apa saja harapannya selama pembelajaran. Siswa menjawab dengan fitur chat.

4.          Setelah itu guru menanyakan ide dari murid untuk mencapai kelas impiannya.

5.          Kemudian guru dan siswa membuat ide yang disampaikan murid tersebut menjadi kesepakatan  kelas. Nantinya kesepakatan ini dituliskan guru didalam poster dengan menggunakan kata yang positif.

6.          Kemudian setelah guru menuangkan isi kesepakatan kelas di dalam bentuk poster, guru kemudian memajangkan poster tersebut didinding kelas. bersama murid guru juga membuat poster digital, dan guru menshare poster digital yang dibuat melalui grup Whatsapp.

7.           Selanjutnya, guru dan murid sepakat untuk melakukan refleksi selama pembelajaran berlangsung.

 Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Ketika perteuman maya berlangsung terlihat banyak anak yang antusias. Ini menandakan adanya harapan dari para siswa. Tugas guru adalah menjaga, merawat dan mengembangkan harapan itu. Setelah semua pertanyaan diajukan siswa dapat memberikan respon dan mengungkapkan perasaan mereka. Hal yang patut dicatat adalah sebagian besar mengeluhkan kendala teknis seperti gawai tidak punya atau tidak berfungsi, jaringan sinyal yang buruk, kuota cepat habis, akun yang sulit. Selain dari pada itu siswa juga mengeluhkan alur pembelajaran di tahun sebelumnya yang terkesan hanya berupa sekumpulan tugas-tugas dengan deadline tertentu.

 

Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan maupun keberhasilan)

 

Penerapan budaya positif melalui penyusunan kesepakatan kelas merupakan hal yang baru diterapkan di SMPN 1 Cianjur. Dalam pelaksanaannya masih ditemukan sejumlah kendala. Pertama, untuk menghasilkan kesepakatan kelas yang ideal diperlukan kedekatan seperti pada suasana pembelajaran tatap muka. Kedua, pemahaman mengenai konsep kesepakatan kelas masih belum sempurna baik pada guru, siswa atau pun warga sekolah. Ketiga, sulit untuk menghasilkan kesepakatan kelas yang dapat didokumentasikan untuk diketahui, dipahami oleh siswa, orang tua, guru lain dan kepala sekolah.

 Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

 Kegiatan penerapan budaya positif melalui penyusunan kesepakatan kelas perlu disosialisasikan pada warga sekolah. Agar penerapan dan pelaksanaan kesepakatan kelas sebagai bagian dari penerapan budaya positif di sekolah bisa dijalankan dengan efektif adalah salah satunya keterlibatan secara utuh dari semua peserta didik yang diampu agar kesadaran untuk berbuat lebih baik datang dari dalam diri peserta didik, bukan karena terpaksa. Diharapkan hal ini bisa dilakukan ketika berlangsungnya proses pembelajaran secara tatap muka. Meskipun demikian, ketika berlangsungnya pembelajaran secara daring seperti saat ini setidaknya upaya menghadirkan kesadaran dari dalam diri peserta didik melalui penerapan kesepakatan kelas tetap harus dijalankan.

                Sementara itu, dalam pelaksanaan berbagi praktik baik dalam bentuk kesepakatan dengan para rekan sejawat sebaiknya memikirkan waktu yang lebih baik dan membuat jadwal yang lebih rinci. Dengan demikian, penjelasan tentang praktik baik penerapan kesepakatan kelas ini mampu dipahami dan diterima oleh rekan sejawat yang lain.

 

Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto atau video-video singkat berikut caption/narasi singkat nya.

 

Link video hasil rekaman dapat dikunjungi pada https://drive.google.com/file/d/1KXzscMTfK9ft5XQdjAU6B026WvTKAv6n/view?usp=sharing.

 

Foto Capture dari video tersebut:


Contoh Kesepakatan kelas yang dibuat siswa

 









Kamis, 01 Juli 2021

Rancangan Untuk Tindakan Aksi Nyata Modul 1.3

 

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.3: VISI GURU PENGGERAK

Oleh

Bambang Widyanarko (SMPN 1 CIANJUR)

 

Latar belakang 

Visi seorang guru penggerak harus senantiasa melibatkan siswa tidak hanya dalam proses pelaksanaan pembelajaran tetapi puladalam perancangannya. Keterlibatan siswa juga dapat menentukan keberhasilan sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya ditentukan oleh seorang guru. Penggunaan metode apapun harus mampu memahami apa yang diinginkan siswa dalam proses pembelajaran. Inilah yang disebut dengan ekspektasi. Dalam aksi nyata modul 1.3 ini, penulis akan menunjukkan bagaimana melibatkan siswa dalam proses merancang ulang atau redesign pembelajaran bahasa inggris SMP kelas 8.

Proses Perancangan ulang atau redesigning ini mencoba menggunakan konsep Inkuiri Apresiatif (IA). Sifat asli dari IA itu sendiri adalm empiris dan ilimiah. Oleh karena itu langkah yang akan ditempuh juga menggunakan kaidah dan sitematika serta metodologi ilmiah. Kegiatan intinya adalah penyusunan dan pelaksanaan survey mengenai perbaikan delivery pembelajaran daring. Survey ini akan mencari tahu mengenai apa yang diharapkan oleh siswa mengenai bentuk, kepraktisan dan pelayanan yang diharapkan. Survey ini juga dilaksanakan untuk menningkatkan keterlibatan dan partisipasi siswa dalam menghasilkan desain pembelajaran daring yang efektif. 

Tujuan

Tujuan dari survey persepsi dan ekspektasi siswa mengenai pembelakaran daring bahasa Inggris ini adalah: 

a.    mendapatkan instrumen survey yang relevan. 

b.    memberikan ruang ekspresi bagi siswa mengenai persepsi dan ekspektasi mereka. 

c.    mendapatkan data otentik yang bersifat kuantitatif dan kualitatif langusng dari siswa sebagai end-user. 

d.    mengolah data dengan standar parametrik dan non-parametrik yang baik. 

e.    menghasilkan interpretasi data yang valid 

f.     menghasilkan rekomendasi operasional yang feasible untuk perbaikan masa ke depan.

Tolok Ukur

Pada aksi nyata modul 1.3 ini, saya akan memberi judul: Penggunaan Inkuri Apresiatif dalam Mendesain Ulang Pembelajaran Daring: Studi Kasus Pembelajaran Online Bahasa Inggris Kelas 8 SMPN 1 Cianjur Tahun Pelajaran 2021. Tindakan aksi nyata akan dikatakan berhasil apabila: 

a.    didapat instrumen survey yang baik dan relevan. 

b.    angket dapat melibatkan sebagian besar siswa yang diajar. 

c.    data yang diperoleh dapat diolah tepat waktu. 

d.    Hasil pengolahan data dapat menghasilkan rekomendasi yang tepat. 

e.    Rekomendasi dari pelaksanaan survey sangat berharga bagi perbaikan ke depan.

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aksi nyata ini adalah 1 minggu perancangan, 2 minggu pelaksanaan dan 1 minggu penulisan laporan. Jadi totalnya 4 minggu.

Dukungan yang dibutuhkan

Untuk dapat melaksanakan perancangan aksi nyata modul 1.3 ini dperlukan beberapa hal seperti: 

a.    perangkat manusia: penulis, siswa, rekan dan pimpinan serta pihak lain. 

b.    perangkat keras : komputer/laptop, handphone 

c.    perangkat lunak: word processor dan browser 

d.    perangkat jaringan : akses internet, kuota 

e.    akun g mail baik guru maupun siswa. 

f.     aplikasi google suite for education. 

g.    aplikasi MS Excel dan koumputasi data lain. 

h.    buku-buku penunjang teori. 

i.     Beberapa ahli bidang IT.

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.2

 Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Oleh
BAMBANG WIDYANARKO 
SMPN 1 CIANJUR JAWA BARAT

Latar Belakang

Bercermin dari aksi nyata dengan materi modul 1.1., penulis mendapat kesadaran bahwa pembelajaran daring jarak jauh yang dilaksanakan belum maksimal. PJJ ini cenderung fokus kepada penuntasan kurikulum. Mengingat waktu pembelajaran dengan kebijakan yang ditempuh sekolah menjadi berkurang, penulis mengalami kesulitan beban jam mengajar serta target materi yang hatrus dicapai. Selain itu penulis juga kurang dapat melakukan komunikasi dengan orangtua sebagai pembimbing peserta didik di rumah.

Salah satu perbaikan yang akan dilakukan adalah dengan memperjelas dan mepertegas peran penulis sebagai pengajar. Dengan kata lain, pada PJJ kali ini penulis akan mencoba untuk HADIR pada proses pembelajaran dengan mengadakan video conference secara rutin dan mengupload video penjelasan sesering mungkin serta meningkatkan intenitas percakapan di WAG kelas masing-masing.

Tujuan

Tujuan perbaikan pemberian pelayanan pembelajaran ini adalah: 

a.    menciptakan media pembelajaran yang lebih meraih perhatian dan minat siswa. 

b.    memberikan ruang komunikasi bagi pengajar dengan siswa dan siswa denga siswa. 

c.    menjelaskan kepada rekan lain, pimpinan dan pengawas mengenai cara mengajar daring yang efektif. 

d.    memberikan kesempatan lebih luas bagi siswa untuk berpartisipasi secara positif di dunia maya.

Tolok Ukur

Kegiatan atau aksi nyata yang nantinya akan diberi judul Memperbaiki Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (Pjj) Bahasa Inggris Kelas 8 Dengan Menambah Aktifitas Synchonous Pada Google Classroom dapat dikatakan berhasil apabila: 

a.    partisipasi siswa dapat meningkat. 

b.    materi yang dihasilkan semakin baik dan menarik minat siswa. 

c.    alur pembelajaran menjadi jelas dan mudah diikuti. 

d.    siswa semakin percaya diri dan terbantu dengan media yang digunakan. 

e.    siswa dapat melakukan semua aktifitas daring sesuai yang diharapkan.

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aksi nyata ini adalah 1 minggu perancangan, 2 minggu pelaksanaan dan 1 minggu penulisan laporan. Jadi totalnya 4 minggu.

Dukungan yang dibutuhkan

Untuk dapat melaksanakan perancangan aksi nyata modul 1.2 ini dperlukan beberapa hal seperti: 

a.    perangkat keras : komputer/laptop, handphone 

b.    perangkat lunak: word processor dan browser 

c.    perangkat jaringan : akses internet, kuota 

d.    perangkat manusia: penulis, siswa, rekan dan pimpinan serta pihak lain. 

e.    akun g mail baik guru maupun siswa. 

f.     aplikasi google suite for education. 

g.    buku-buku penunjang teori. 

h.    Beberapa ahli bidang IT.

Rabu, 30 Juni 2021

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.4 oleh BAMBANG WIDYANARKO (SMPN 1 CIANJUR)

 Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.4

Judul Modul : 1.4. Budaya Positif
Nama Peserta : Bambang Widyanarko (SMPN 1 CIANJUR)


Latar belakang 

Sebelum melaksanakan aksi nyata sesuai dengan materi di modul 1.4 yaitu mengenai Budaya postif, perlu dibuat perancangan yang baik agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.4 merupakan arah dan pedoman penulisan artikel mengenai materi di modul 1.4 dapat di pertunjukkan. Artinya, CGP setelah mempelajari isi modul dan menyelesaikan LMS dapat menerapakan ilmu pengetahuan dan peraaaan selama pembelajaran menjadi tindakan nyata yang motorik dan ilmiah.. Namun karena situasi tidak memungkinkan hari-hari ini, untuk tindakan aksi nyatanya akan dilaksanakan setelah tahun ajaran baru berlangsung.

Tujuan

Budaya positif seperti yang dijelaskan di modul merupakan kummpulan teorama kompleks dan abstrak serta belum dapat di dasari contoh konrit sekolah lain yang telah berhasil menerapkannya. Peneapan ini tentunya harus mengacu pada pelaksanaan kegiatan inkuiri yang ilmiah. Artinya, dalam penerapan budaya positif di sekolah atau di kelas pembelajaran perlu adanya cara berpikir dan bertindak yang didasari prinsip-prinsip ilmiah seperti adanya sistematika, pengumpulan data, dan pengolahannya, serta interpretasi data yang sahih. Pelaksanaan budaya positif dalam pembelajaran dengan keadaan pandemi adalah tantangan tersendiri. Untuk itu perlu rancangan yang komprehensif dan feasible.

 

Tolok Ukur

Ada beberapa tolak ukur yang harus menjadi acuan dalam kegiatan perencanaan ini. Pertama adalah terciptanya rasa percaya diri dari CGP bahwa tindakan nyatanya nanti akan dapat berhasil dengan efektif. Kedua, terciptanya panduan kerangka pemikiran dan batasan waktu. Ketiga, teridentifikasinya instrumen, alat dan persona yang mendukung. Keempat, terlaksananya perancangan yang tepat waktu sehingga pada pelaksanaan nyata nanti dapat berlangsung tepat waktu dan tepat guna.

 

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Seperti disebutkan sebelumnya waktu yang tersedia diperpanjang. Ini karena penerapan budaya positif memerlukan keterlibatan langsung dari siswa sebagai center of learning. Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aksi nyata ini adalah 1 minggu perancangan, 4 minggu pelaksanaan dan 1 minggu penulisan laporan. Jadi totalnya 6 minggu.

Dukungan yang dibutuhkan

Sama halnya dengan aksi nyata sebelunya, untuk dapat melaksanakan perancangan aksi nyata modul 1.4 ini dperlukan beberapa hal seperti:

a.   perangkat keras : komputer/laptop, handphone

b.      perangkat lunak: word processor dan browser

c.       perangkat jaringan : akses internet, kuota

d.      perangkat manusia: penulis, siswa, rekan dan pimpinan serta pihak lain.

e.       akun g mail baik guru maupun siswa.

f.       aplikasi google suite for education.

g.      buku-buku penunjang teori.

h.      Beberapa ahli bidang IT. 


Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Modul 1.1 BAMBANG WIDYANARKO (SMPN 1 CIANJUR)

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata 

Judul Modul : 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara 
Nama Peserta : Bambang Widyanarko (SMPN 1 CIANJUR)


Latar belakang 

Rancangan tindakan ini dibuat sebagai arah dan pedoman penulisan artikel mengenai materi di modul 1.1 yaitu Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Setelah mendapatkan materi modul 1.1, saya ingin menggunakan pengetahuan di modul tersebut untuk mempelajari praktek pembelajaran daring Bahasa Inggris di SMPN 1 Cianjur. Dapat dikatakan saya mendapatkan perpektif baru mengenai peran dan fungsi seorang guru. Hal ini dihadapkan pada tantangan pemberian pelayanan kepada siswa dalam keadaan pandemi COVID19 dan pengetahuan guru yang minim mengenai pembelajaran online. 


Tujuan 

Insight yang jelas mengenai keadaan dan tantangan yang sedang dihadapi diharapkan akan menjadi bahan untuk memperbaiki pembelajaran daring bahasa inggris. Harapan dan pengalaman siswa selama mengikuti pembelajaran daring dapat dijadikan bahan untuk merencang ulang media belajar daring. Fitur-fitur Google Classroom belum dapat dimanfatkan untuk memberikan pelajaran yang siswa butuhkan. Ini adalah langkah awal yang sangat baik guna menghasilkan desain pembelajaran yang efektif yang mungkin sesuai dengan filosofi KHD. 

Tolok Ukur 


Dari kajian teoritis pada materi modul dan pemahaman teknis mengenai pembelajaran daring dapat ditemukan elemen apa yang terpenting dan tidak terakomodasi atau tersedia dalam laman pembelajaran daring bahasa inggris. Minimal dapat ditemukan fitur priorotas yang harus segera ditampilkan atau disediakan agar pembelajaran menjadi lebih berpihak pada murid. 

Linimasa tindakan yang akan dilakukan 


Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aksi nyata ini adalah 1 minggu perancangan, 2 minggu pelaksanaan dan 1 minggu penulisan laporan. Jadi totalnya 4 minggu. 

Dukungan yang dibutuhkan 

Untuk dapat melaksanakan perancangan aksi nyata modul 1.1 ini dperlukan beberapa hal seperti:
a. perangkat keras : komputer/laptop, handphone 
b. perangkat lunak: word processor dan browser 
c. perangkat jaringan : akses internet, kuota 
d. perangkat manusia: penulis, siswa, rekan dan pimpinan serta pihak lain. 
e. akun g mail baik guru maupun siswa. 
f. aplikasi google suite for education. 
g. buku-buku penunjang teori. 
h. Beberapa ahli bidang IT.